Meski aku sudah sejak November lalu mendaftar untuk ikut serta bekerja selama Grüne Woche Berlin 2009, tapi ternyata aku diawalnya tidak berada di list mereka. Mungkin karena keterbatasan pekerjaan yang tersedia atau bisa juga karena aku kalah cepat dari para pelamar yang lain.
Namun pastinya bukan Inest namanya, yang gampang saja menyerah dengan keadaan. Setelah aku kontak mereka untuk selang beberapa waktu dengan menghubungi ketiga „Superwomen“ yang membawahi pekerjaan ini akhirnya aku berhasil mendapatkan kerja part time pertamaku di awal tahun 2009. Aku yakin mereka memberikan kepercayaan ini tak lain karena mereka melihat hasil kerjaku dibeberapa kongres dan pameran besar ditahun silam.
Pembagian tugas, informasi, posisi, dan kostum memakan waktu empat jam selama briefing. Setelah briefing kami pun diminta kembali untuk mengelilingi semua aula yang ada di Messe, kebayang kan luasnya? Konon kata orang, berjalan di dalam aula Messe sendiri sama artinya berjalan 8km.
Pada acara malam pembukaan Grüne Woche Kamis, 15 Januari 2009, aku berkesempatan langsung bertemu dengan Burgermeister/Walikota Bpk. Klaus Wowereit, seorang walikota pencinta sesama jenis yang sangat disukai kaum prominent. Pengalaman yang lucu, karena saking ramainya, aku tak lagi mengenali wajah beliau. Saat aku bertanya hal yang sama kepada setiap tamu VIP, beliau langsung menjawab ”Ich brauche sowas nicht, ich bin der Bürgermeister” (aku tidak perlu itu, aku kan Walikota). Damn, betapa cerobohnya Inest. Untungnya Bos aku tidak berada didekat aku. Wajar saja, 5000 orang hadir pada acara pembukaan ini, tak ayal kejadian ini bisa terjadi.
Seperti yang kita tahu, di tahun ini terdapat 1600 peserta dari 57 negara didunia yang ikut serta dalam ajang bergengsi pameran pertanian, makanan dan ilmu gizi, serta hortikultura. Untuk ini Grüne Woche sendiri memperkerjakan 11.000 karyawan dari berbagai manca negara sesuai dengan kebutuhan.
Sayangnya, hanya Singapore, Azerbaijan dan India yang mewakili Asia di tahun ini. Meski Indonesia tidak ikut berpartisipasi dalam ajang pamer kecanggihan dunia pertanian ini, tapi….
Dengan bangganya aku tersenyum pada saat melihat bendera Merah-Putih Indonesia terpajang sejajar dengan bendera Rusia, Jerman, Uni Eropa dan Cina didepan Aula konferensi pada saat forum internasional kedua Grüne Woche tanggal 17 Januari 2009 berlangsung. Konferensi ini bertitik tolak dari kekuatiran akan ketersediaan pangan dan jaminan keamanan pangan global di tahun 2050 nanti, dimana pertumbuhan populasi dunia diperkirakan akan mencapai 9.2 Milyar.
Konferensi yang menghadirkan Menteri pertanian dari Indonesia, Jerman, Cina, Rusia dan Komisioner Uni Eropa, bertemakan ”Global Food Security, a global challenge for politics and industry” ini menarik lebih dari 2500 peserta tentunya dari berbagai kalangan: politik, ekonomi, ilmuwan, akademisi, NGO, pengusaha dan tak ketinggalan tentunya para petani. Ini pertama kalinya dalam sejarah sepanjang hayat, Indonesia ikut serta dalam Green Week yang sudah dimulai sejak tahun 1926. Meski Indonesia sendiri tidak memiliki stand langsung di aula pameran, tapi setidaknya kehadiran Menteri Pertanian Indonesia yang diundang karena keberhasilan Indonesia dalam swasembada beras ini sudah merupakan salah satu wujud kemajuan kita di dunia pertanian. Terbukti ditahun 2007 dan 2008, produksi pangan di Indonesia meningkat sebesar 5% dimana ironisnya kondisi produksi pangan dunia malah sedang menurun saat itu.
Tebak dengan siapa lagi Inest bertatap muka dan berkenalan secara langsung?
Begitu bahagianya menyambut Bpk. Dr. Anton Apriyantono sesaat sebelum beliau menjadi pembicara dalam diskusi panel. Beliau diarahkan menuju sebuah ruang tunggu, disitulah aku menunggu beliau. ”Assalamualaikum Bapak, selamat datang di Green Week Berlin, saya InesT, senang dan bangga menerima kehadiran bapak disini”, begitu sapaku. Beliau dengan ramah berjabat tangan dan kami bercakap-cakap selama 10 menit lamanya, lalu aku memandu beliau keruangan tunggu. Tak lupa aku berbagi cerita bahwa kami adalah satu almamater dari IPB (Institut Pertanian Bogor). Lalu beliau mengingatkan aku untuk segera kembali setelah masa studiku berakhir: ” Kembalilah ke tanah air, kita harus bangun bangsa sendiri”, pesannya bersahaja.
Moderator Christoph Minhoff hadir bersama dua asisten pribadinya, mereka langsung ke ruang make-up, tampak sekali Mr. Minhoff sangat tegang dipagi itu.
Terlihat segerombolan orang penting datang dari sisi berlawanan, ternyata mereka adalah orang-orang dari Komisi Pertanian dan Pengembangan Wilayah-Uni Eropa, Nyonya Mariann Fisher Boel berjalan ditengah dan dikerubungi oleh para ajudannya. Aku berkenalan dan bercakap-cakap singkat dengan beliau. Sangat tegas tapi penuh kharisma.
Lalu Menteri Pangan-Pertanian dan Perlindungan Konsumen Jerman nyonya Ilse Aigner tiba dan langsung digiring ke ruangan Make-up. Forum international ini akan disiarkan langsung oleh tv lokal Jerman dan beberapa stasiun TV mancanegara lainnya. Ibu Aigner menjabat tanganku erat sambil tersenyum manis, sebelum beliau menyalami para Menteri yang sudah menunggu didalam ruangan. Beliau cantik dan ramah.
Menyusul kehadiran Menteri Pertanian Cina: Chen Xiao Hua yang didampingi oleh penterjemahnya. Saat kami berjabat tangan, dengan hangat aku mengucapkan selamat datang. Tapi sayangnya beliau tidak berbicara bahasa Inggris sama sekali.
Ada rasa iri yang mendalam, tapi rasa iri yang positif. Rasa gelora yang membakar semangat dan memotivasi diri dengan sangat kuat.
Satu kata dari hati kecilku muncul dengan pelan tapi pasti
”Suatu saat kamu yang akan disambut Inest”.
Konferensi ini berlangsung empat jam lamanya. Terlihat Bpk. Wajid Fauzi selaku duta besar sementara KBRI Berlin ditemani oleh Ibu Sylvia Arifin (kepala bidang ekonomi dan pembangunan) duduk di baris kedua bersama tamu-tamu penting dunia lainnya.
Tidak pernah bermimpi untuk bertemu dalam satu waktu begitu banyak para petinggi dunia, apalagi disaat kerja part time begini. Alhamdulillah ya Raab, pengalaman yang luar biasa. Sambil menyelam minum air….
Keesokkan harinya pengalaman menarik lainnya menungguku. Kali ini aku akan menggiring gerombolan dari Menteri Pertanian Belanda Ibu Gerda Verburg mengelilingi kawasan pameran. Belanda adalah ”Partner Country Green Week 2009”, karena lebih dari 60% produksi hasil pertanian Belanda dijual dan disenangi oleh masyarakat Jerman.
Kehadiran Wladimir Wladimirowitsch Putin pun tak terlewati pada hari Jumat tanggal 16 Januari. Dijadwalkan beliau akan mengunjungi stand Rusia yang berada di Aula 2.2. Dua jam sebelum kehadiran Bpk. Putin tersebut, semua bagian Aula 2.2 sudah dipenuhi ratusan polisi dan penjaga keamanan, tak ketinggalan bahkan Aula 2.2 sudah ditutup untuk umum. Pengunjung umum konon kabarnya dilarang mendekati aula ini bahkan ada yang diusir secara paksa. Sosok Putin yang kecil susah dilihat karena beliau dikelilingi oleh sekitar 10 pengawal pribadinya.
Luar biasa. Untuk kunjungan sesaat itu, Putin sudah memperkerjakan ratusan orang…
Selama 11 hari aku bekerja untuk Grüne Woche, bertemu lebih dari 110.000 orang setiap harinya.
Pengalaman berharga, letih, duka dan suka melengkapi 110 jam masa kerjaku. Tapi jerih payah ini akan terbayar segera….
Unforgettable…
Bawa aku ke mimpi-mimpiku, ya ALLAH SWT-Aminnn….
*dan mimpi2 saya juga ya Allah…amiinn..
amin.. semoga mimpi kamu terkabul ya…..
lalu inest kerjanya jadi apaan, kayak jurnalistik meliput brita, atau penerima tamu atau apaan