NEVER LOOK BACK

Stories by InesT

NYAWA June 6, 2008

Filed under: Experiences, Love & Privat, Opinions, Welcome Guys — InesT @ 4:19 pm

Terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan bahkan sebagian orang ada yang bilang aku adalah anak seorang konglomerat. Aneh kadang-kadang mendengar pernyataan itu meski sebenarnya kami hidup dalam kadar yang cukup tapi tidak berlebihan.

Acap kali mata orang memandang sesuatu jauh lebih baik dari keadaan aslinya layaknya sebuah fatamorgana.

Lambat laun aku jenuh dengan pikiran mereka. Banyak yang ingin memanfaatkan keberadaanku, bahkan parahnya ada pria-pria yang ingin bersamaku hanya untuk mencicipi kemewahan yang kumiliki…sungguh memalukan.

Latar belakang yang kumiliki membuatku terdampar dikalangan orang-orang yang cukup berduit pula. Aku tak bisa memilih. Bersekolah di sekolah favorit, bergaul dengan anak-anak para pejabat, berlibur keluar negri dan mengendarai mobil pribadi dari jaman sekolah menengah pertama. Matamu tergiur bukan dengan kehidupanku? Jangan kawan, jangan dulu terlena…

Sungguh penat setelah lebih dari 30 tahun bergumul dengan mereka, yang hanya memandang label dan mobil mewah sebagai ukuran kebahagiaan seseorang. Seandainya aku bisa memilih, akan kupilih hidup wajar bersama dengan orang-orang yang memiliki pancaran cinta yang tulus tanpa embel-embel kusut itu.

Orang tuaku adalah pasangan yang sangat moderen dan religius. Sangat bersyukur dilahirkan dari pasangan yang taat dan menerapkan kehidupan beragama sejati di dalam keluarga. Ini membuatku jauh dari distorsi dan transisi nilai-nilai kehidupan. Mereka sangat berpendidikan dan disegani. Wajar ayahku seorang pengusaha ternama dan ibuku memiliki salon kecantikan termewah di kota ini.

Masih teringat peristiwa di masa kecilku tatkala aku terlambat pulang kerumah setelah jam sekolah bubar. Biasanya saat adzan Magrib mengumandang, kami bersama-sama melaksanakan sholat Magrib berjamaah dilanjutkan tadarus hingga waktu Isya menjelang. Lalu disaat keterlambatanku waktu itu, Ayahku marah besar dan beliau tak sungkan-sungkan menarik serta menjambak rambutku. Pada akhirnya aku mendarat dengan indah di dalam bak kamar mandi setelah beliau membenamkan kepalaku sebanyak dua kali kedalam bak yang penuh air. Pengalaman berharga dan berkesan untukku. Aku tidak malu beliau memperlakukan aku seperti itu, karena aku adalah darah dagingnya dan waktu itu aku pun masih di bawah umur. Beliau punya hak untuk itu. Lagipula itu salahku yang berpacaran sepulang sekolah dan membiarkan mobilku terparkir di pelataran parkir sekolah. Aku cukup badung bukan? Ah itu masa lalu.

Sebagai anak tunggal yang tinggal di sebuah istana layaknya gereja pikirku, acap kali kesepian melanda keseharianku. Untungnya aku terbebas dari masalah rokok dan tentunya Narkoba bajingan itu. Lalu apa kompensasinya terhadap kesepian ini? Aku sering menghabiskan waktuku di perpustakaan milik Ayah atau duduk berjam-jam lamanya di sebuah toko buku favoritku di tengah kota. Aku memang seorang yang gila buku dan otakku cukup cemerlang dikalangan anak-anak borju lainnya. Ini tentunya membuatku sungguh beken dikalangan anak-anak berduit itu. Juara kelas atau setidaknya tiga besar dikelas sudah menjadi makananku. Tak heran kebanyakan dari mereka sangatlah jealous akan prestasiku di sekolah. Aku menyukai Ilmu pasti, Matematika, dan pastinya Bahasa Inggris. Aku sering menjadi murid kesayangan para guru dan mencuri hati anak-anak pria pastinya. Ah sungguh dunia yang indah saat itu.

Banyak negara di benua Amerika, Eropa, dan Afrika telah aku singgahi dan semuanya adalah tempat liburan favoritku. Sepatu dan tas berlabel merek dunia, sebut saja Gucci, Louis Vuitton, Chanel, dan Balenciaga memenuhi lemariku. Untuk ukuran anak umur 17 tahun, aku sungguh sangat beruntung bukan. Semua keinginanku selalu terpenuhi. Orang tua yang sangat mencintaiku dan menyiramiku akan kasihnya.

Suatu ketika disaat umurku memasuki 19 tahun. Sesuatu tumbuh tak diundang ditubuh cantik ini. Setelah general check up di Singapore, dokter yakin bahwa aku mengidap kanker payudara stadium II. Masih ada jalan untuk berobat tentunya. Aku dulu tidak terlalu kuatir akan penyakit ini. Tujuh operasi dan segala kemoterapi telah kulewati. Tak heran keelokan paras ini tentunya berkurang. Pernah aku berdomisili setahun lamanya di Munich-Jerman untuk pengobatan penyakit kanker ini, sembari aku menyelesaikan kursus sekolah musik secara privat pastinya.

Violin adalah pilihanku. Saat itu tepatnya diusia 26 tahun, satu payudaraku sudah rata. Mereka mengambilnya! Aku sekarang adalah wanita yang cacat. Pria tak lagi kulirik. Aku malu.

Waktu berjalan layaknya kereta api cepat. Baru saja aku merayakan ulang tahun yang ke-30. Beratus kado, bunga dan kartu kuterima. Tak satupun kusentuh. Mereka sungguh bodoh, bukan ini yang kumau. Bukan barang mewah ini. Tidak barang mati ini. Aku tidak bahagia karenanya. Aku tidak hidup karenanya….Berikan apa yang kumau…? Sulitkah?

Ada yang janggal kali ini. Tatapan mata dokter pribadiku sungguh sangat pilu. Seakan-akan ingin bicara, malangnya engkau wanita ayu karena aku angkat tangan akan penyakitmu. Sebagian tubuhku telah terjangkiti sel-sel virus mematikan itu. Peluangku nihil untuk sembuh. Aku yang bandel, tak peduli akan pantangan. Prinsipku, hidup yang hanya sebentar tak akan kuisi dengan bersedih dan mengeluh.

Aku harus berkarya! Buktinya gelar Doktor pun lekat di nama depanku: Dr. Valerie Johnson….Membanggakan sekali bukan?

Lalu apakah aku kini?

Seonggok daging rapuh terbaring di rumah sakit mewah. Biasanya orang tuaku selalu memberi apa yang kumau. Kali ini tolong beri aku NYAWA…

Tak satupun yang bisa membelikan atau menghadiahiku sebuah NYAWA…

Ajal akan menjemput rohku sebentar lagi..Meninggalkan tubuhku tanpa NYAWA.

Dekat sangat dekat…Aku merasakannya menjalari urat nadiku yang kaku….

Akankah nanti aku berlabuh di surga TUHAN?

(Fiksi-Didedikasikan untuk seseorang di Surga, tiga tahun kematianmu teman)

 

8 Responses to “NYAWA”

  1. chocoholic Says:

    duh kalo emang ini berdasar pengalaman lo say, gue sirik deh.. biarin deh diceburin ke bak mandi asal lemari gue penih gucci, balenciaga, valentino..

    kirim dong yang second hand ke sini.. lol

    tapi it’s a really good story. tulisan lo buset, kaya cerita2 di majalah.. pilihan katanya itu loh.. canggih!!

  2. therry Says:

    Iya Nest, bagus bgt…. gimana kalo bikin cerita bersambung gitu, jadi tiap posting gitu nyambung? Keq cerbung2 di koran / majalah gitu loh!!

    Trus kalau bisa karakter2 pendukungnya diperkaya gitu baik dgn sifat2 baik dan buruk plus dilemma dan issue2 mereka sendiri.

    Pasti keren!! Keep writing girl, you rawks!! Rawks!!

  3. Dimas Ariyo Nugroho Says:

    hahahah wanita yang satu ini ternyata seorang penulis juga yah,
    bagus, sedih ceritanya jadi pengen kasih komment gara gara tulisan tadi, kekayaan sebenarnya adalah “disaat kita tertawa ada yang ikut merasakan gembira dan disaat kita menangis ada yang ikut bersedih” ini meurut saya kekayaan yang sebenarnya :D

  4. rajaklana Says:

    http://rajaklana.wordpress.com…i like to read ur blog:D

  5. whiteaisuru Says:

    tu cerita pa nyata sich…?!
    kok kayak novel ya…
    tp aku bisa ambil hikmahnya kok
    penyampaiannya bagus n kata-katanya bikin aku klepek2…
    thanks buat yang nulis….

  6. darwadi Says:

    keren,,, mantab pisannnnnnnnn,,,, serius,, gw tunggu lagi tulisan2 lw,,,

  7. asdi Says:

    nest…. mudah-mudahan tulisan ini menjadi hikmah bagi kita, yang membacanya… terimakasih….

  8. bebenbenzy Says:

    hmm… gambaran hidup lagi nih nest…apa segala sesuatu di ukur dengan angka..? apa sebuah nilai harus di tetapkan dengan harta yg berlimpah..? ternyata…. yg berharga dan bernilai itu adalah diri kita yang hanya sebuah benda yg dikeliingi partikel-partikel ciptaan yang Maha Dasyat. yang dapat menggerakan benda ciptaanNYA, tak pernah terbersit dalam benak seseorang akan harga dan nilai sebuah NYAWA, di kala mereke dikelilingi oleh gemerlap kepalsuan dunia… mari kita telaah tentang asal-usul kejadian manusia, biar dpt bercermin dari benda apa kita terbuat, emas kah..? mulia kah..? perak kah..? intan Kah..?.


Leave a Reply