Berat hati rasanya menulis sepotong surat ini. Tanganku gemetar penuh keringat dingin, perutku mules tujuh keliling dan luka busuk itu muncul tanpa diundang. Belakangan ini, sungguh bayangan nakal wajahmu berkeliaran dimimpi dan hari-hariku.
Inilah waktu yang tepat untuk sebuah klarifikasi dan pengakuan diri. Saatnya untuk bicara dari hati ke hati. Menghindari masalah bukanlah jawaban. Kamu dulu pernah bilang bahwa semua masalah bisa kita dibicarakan. Meski mungkin semua sudah jelas dan selesai dengan kebisuan kita. Pastinya ini jauh dari sikap yang bijaksana.
Aku harap tulisanku ini menemui kamu dalam keadaan sehat dan bahagia. Itulah doaku selalu sejak pertemuan dan perpisahan kita, dua tahun, yah tepatnya 24 bulan dan 24 menit yang lalu. Semua masih jelas terukir dibenak dan sangat terang terlukis di pelupuk mata indahku.
Silahkan dan kamu boleh limpahkan semua kesalahan kediriku. Aku terima, salahkan aku atas semua yang sudah terjadi. Mungkin bukan aku yang memulai, tapi kesalahanku untuk membiarkan semua terjadi. Jujurnya tiada pernah aku menyesali setiap detik yang kita lewati bersama, sungguh, percayalah aku. Aku menikmati dan menginginkannya. Aku berterima kasih untuk keindahan dan gejolak kasih sesaat yang kita miliki. Aku mengerti kemauan kamu yang hanya ingin menikmati kesenangan bersamaku. Aku dengan sangat mengerti untuk menerima keinginan kamu yang tidak ingin bersamaku. Kamu hanya memanfaatkan kesempatan, kenikmatan dan keindahan yang aku berikan. Wajar, itu sangat lumrah sayangku. Jika aku ada di posisimu, pastinya aku akan melakukan hal yang sama.
Ketika kamu bilang “Aku cuma mau senang-senang bersama kamu. Kamu cantik, pintar, dan sexy. Siapa yang akan menolak untuk bisa bersamamu. Kita jalani saja ini. Jangan pikirkan esok. Aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat, setidaknya sampai aku 29-30 tahun nanti“
Aku sungguh mengerti, hubungan sesaat itu tak akan berakhir baik. Dan benar itu tidak berakhir baik bagi kita berdua. Semua terjadi dan berakhir begitu cepat. Dengan luka menganga pilu dihati wanitamu dan tentunya hatiku. Ah lalu siapakah aku?
Tak satupun kabar yang aku terima tentang keberadaanmu. Malam panjang itu benar tatkala dia membisikiku, “Kalian tidak saling kenal. Jangan biarkan dia melukaimu cantik“. Tapi sayangnya, kerakusan dan kehausan makhluk halus lebih menguasai hati manusia yang hina. Haruskah aku bercerita banyak tentang masa laluku? Bila iya, lalu kapankah masanya? Adakah kita punya waktu sejenak untuk terdiam, duduk tenang dan lalu berbicara? Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah pertemuan singkat? Disaat ”sepasang manusia” sibuk bereksplorasi kepuasan masing-masing? Inikah dalihmu untuk mengakhiri apa yang kamu benihkan? Mencari kesalahanku akan kesalahan yang kamu telah perbuat sendiri? Membangun sebuah alibi untuk menyelamatkan hubunganmu dengan wanitamu? Disaat kamu jauh dari wanitamu, kamu memanfaatkan kesepianku.Inikah dalihmu ketika kamu bersalah menduai wanitamu dan menyakiti perasaanku?
Kamu menyakiti wanita dan gadis disaat yang bersamaan. Beruntungnya wanitamu yang tidak mengetahui setiap kali kamu bersamaku. Karena dia tidak perlu menderita. Cukuplah aku yang menderita, bukan begitu sayangku? Kamu menang, aku membiarkanmu untuk menang. Kamu memimpin permainan antara gadis dan wanitamu. Aku terima semuanya. Inilah rejeki dan takdirku barangkali. Untuk saat ini terimalah maafku.
Untuk semua kesalahan yang aku sendiri tidak tahu. Untuk kemarahan kamu akan diriku yang aku sendiri pun tidak tahu. Niatku sungguh tulus melalui surat ini. Berikan aku maafmu. Biar kita melangkah kedepan dengan ringan bersama sebuah senyuman lembut menaburi hari.
Akan selalu tersenyum untukmu. Berdoa untuk kebahagiaan kamu dan wanitamu. Aku tidak akan menganggu kamu dan wanitamu, pegang ucapanku, Karena aku adalah SELINGKUHANMU. Perkenalkan aku gadis, Aku seorang lesbi. Bicaralah denganku jika kamu siap. Aku ingin kita bicara layaknya dewasa. Maafkan aku atas kelancangan suratku ini.
(Jangan menangis Teman)