NEVER LOOK BACK

Stories by InesT

Clubbing: OK, Panorama Bar= NO WAY March 6, 2008

Filed under: Experiences, Opinions — InesT @ 10:36 pm

(Prolog: Felix club, Adagio club, dan Amber Suit club serasa lebih pas untukku)

Empat pria berbadan SUMO, penuh tato dengan rambut panjang nan terurai lusuh sudah menanti kerumunan masa sepanjang 500m. Malam semakin kelam suasana dingin mencekam. Ini kunjungan pertamaku ke Panorama Bar! Seorang teman mengajakku melewati akhir pekannya di Berlin, lalu dia usul untuk clubbing di Bar tersebut. Kejadian ini tepat setahun yang lalu!

Tempat ini cool banget, kamu harus ikut Inest. Aku janji deh anterin kamu pulang. Ini sabtu malem dear, Let`s have fun girl , begitu kata Louis.

Aku coba mencari alasan yang realistis, Sudah malam dan Inest ngantuk, lagian aku udah siap-siap mo bobo.

Sudah lama sekali aku ngga clubbing, mungkin terakhir tahun lalu. Perasaanku mulai tergoda. Aku nggak kuat rokok, itu selalu menjadi alasan utamaku.

Louis menelponku malam itu untuk yang ke-4 kalinya dan memaksaku gabung dengan teman-temannya dari Jakarta.

Ayolah INest, ga seru kalo kamu ga ikut. Ada temen-temenku yang lain ko, dua orang cewek juga. Lagian ini kan malam terakhirku di Berlin. Pleaseeeeee, lagi-lagi Louis merayuku. Louis dan teman-temannya datang ke Jerman untuk magang kerja selama 6 bulan.

Bukan Louis namanya kalo nggak berhasil merayu orang.

Ok, kasi aku waktu satu jam lagi. Kita ketemu disana, jawabku dengan malas.

Aku lalu bergegas ganti pakaian dan tak lupa dandan. Seperti kebanyakan gadis, clubbing bagiku adalah waktunya untuk dandan cantik, menarik, dan glamour tapi tentunya tidak murahan.

Ratusan orang berjejer menunggu giliran masuk, untungnya tidak ada salju turun malam itu.

Mataku mulai menangkap keganjilan yang muncul. Ah ini kan club, pengunjungnya pasti beragam, pikirku.

Wanita kekar dengan muka penuh piercing memeriksa seluruh tubuhku sesaat setelah Louis membayar tiket. Tampak dari luar hanya seperti sebuah gedung tua tidak berhuni. Ketika kami masuk kedalam, sebuah ruangan luar biasa BESAR menguakkan mata! Kami menaiki tangga di sisi kiri dan melangkah masuk menuju ke sebuah ruangan. Musik Techno tengah menghentak suasana panas itu. Terlihat hampir seribu manusia bergoyang mengikuti irama. Tapi keganjilan itu mulai menyiksaku!

Louis mengajakku mengelilingi Bar tersebut. Begitu banyak kamar kecil tidak berpintu tersedia untuk pasangan-pasangan yang ingin bercinta. Pemandangan yang sungguh liar tapi nyata! Dimana-mana berserakan pasangan sejenis yang menghumbar nafsu! Mereka PRIA semua! Tangan mereka bermain panas di bagian bawah tubuh masing-masing! Aku bergidik! Perasaanku mulai tidak tenang, tempat apa ini? Perasaan takut mulai menyesak urat nadiku.

Jangan takut, tenang aja. Aku disini ko, tenang Louis seakan mengerti kegelisahanku.

Kamu suka sejenis? Sejak kapan Louis? Kenapa ga cerita?, desakku penuh marah.

Bukan Inest, abangku yang suka sejenis. Dia suka kesini, aku sering diajak. Aku suka Techno kebetulan. Ntar kamu kenalan ya ama cowoknya sekalian, jawab Louis.

Perkenalan dengan abangnya tidak begitu mulus. Tatapan matanya seakan bicara, tempat ini bukan untuk wanita seperti kamu tahu. Jabatan tanganku hanya dibalas dengan ujung jari.

Aku berjalan sendiri ke arah bar. Mataku meyisir ke semua penjuru. Hanya 1/8 wanita hadir disini. Mungkin mereka wanita-wanita Bi. Hanya kami bertiga wanita berwajah Asia malam itu. Semua menikmati malam panas penuh hentakan musik gila. Techno bukan musikku! Louis sudah meninggalkanku lebih dari 10 menit. Aku resah sekali!

Pria-pria itu mulai bertelanjang dada, bahkan sebagian ada yang sudah buka celana. Mereka berciuman penuh gelora dan menari dengan tubuh sangat rapat. Mereka menari sangat liar dan tubuh mereka berkilat penuh keringat.

Louis kembali, dan menyodorkan sejumlah pil itu kehadapan mukaku.

Huh? Apa ini?, Tanyaku

Ecstasy, try it. You´ll be happy…Take it easy! I´ll take care of you, kata Louis.

Dua teman wanita Louis ternyata telah lebih dulu menelan pil jahanam itu. Aku mengelak. Mereka pun sudah mabuk setelah minum tiga gelas Bacardi cola dalam kurun 30 menit. Dan parahnya mereka hanya remaja umur 19 tahun. Aku menatap resah dan pilu. Ah sudahlah bukan hidupku!

No thanks, aku pikir saatnya pulang. Aku kecewa!, Aku bergegas pergi meninggalkan mereka yang sudah terlanjur jauh. Louis mengejarku.

Sorry Inest. Mungkin ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku minta maaf, tegasnya.

Akhirnya kami berpisah, setelah Louis mengantarku ke station terdekat. Louis pun sudah mabuk! Aku putuskan pulang sendiri dengan taxi malam itu. Louis tidak menepati janjinya.

Tak akan lagi ku kunjungi tempat aneh ini. PANORAMA BAR? NOT MY STYLE!

 

18 Responses to “Clubbing: OK, Panorama Bar= NO WAY”

  1. Pucca Says:

    hi inest salam kenal ya..iseng2 klik di blogring :)
    seru juga ya ceritanya..serem juga sih hehe..apalagi gua blom pernah ke bar..but i think panorama bar is not my style too :)

  2. hon3sty Says:

    Hi Pucca, thanks indeed for stopping by!Salam kenal juga ya : ).
    Seru, serem, liar, tragedi….ah sejuta kata,…
    Kamu ga rugi ko belum pernah ke Bar justru good, girl…

  3. Tumes_semuT Says:

    serem nian kaya di film-film aja, kalo saya clubbingnya cuman di warung kopi mbak hehehe

  4. mulia Says:

    tapi kalo ke Irish traditional bar, i think it’s a must. it’s a friendly bar with tremendous music. serius!

  5. hon3sty Says:

    @ Tumes_semut: Asyikkkkkkk, ikutan inestnya bole…ada pisang goreng ngga? MAUUUUUUUUUUUUUUuuuu

    @ Mulia: Bosen mul, Irish Bar di Berlin byk bener…Irish Bar seh bukan buat clubbing my dear…

  6. radit Says:

    isnt that one of the well known gay bars in berlin?? pas pensi kmarin diajakin tmen gw juga, tapi ogah…hahahah…ga doyan laki bo!

  7. mulia Says:

    haha..iye lah. lagian udah gede clubbing..clubbing bukannya untuk anak ABG yah nest?
    whoaaa…di Berlin banyak Irish bar? hmmm..with Irish music live? wel..lo tetep musti coba yang di Galway neng.

    btw, i drop by to also say:
    HAPPY WOMEN’S DAY Inest!
    TGIF, Thanks God, I am Female :)

  8. hon3sty Says:

    @ Radit: Hi Dit, thanks ya udah mampir. Apa kabar, masi siarankah di ppijerman? Pastinya kamu kaga rugi ko ngga kesana…

    @ Mulia: Happy Women`s Day Mul…Hvordan har du det? Vi snakkes

  9. kudaku Says:

    haha.. untung inest cewe.. di lirik pun engga kan! kl cowo.. apa lagi muka melayu..haha.. jadi ngerti gimana rasanya jadi cewe.. by the way.. terima kasih untuk ngenalin ke ibu yg dr kartika itu.. shame kita ga bisa ketemuan di luar ya.. next time i’m off to berlin tho, defo! mungkin mei kali..kl mulai aga panas dan cafe/bar2 di pinggir sungai mulai buka

  10. therry Says:

    Hey, pretty lady! Thanks for visiting my blog.

    Can I link yours to mine? :)

  11. hon3sty Says:

    @ Kudaku= Wah malam itu pastinya udah salah kostum dan kaget bgt ama tempatnya. Mana mungkin dilirik yang ada disinisin abis. Apes deh! Iya sayang bgt, kita ga bisa hang out bareng ya. Looking forward to seeing you soon in Berlin. Thanks for stopping by KUDAKU ato ……?!

    @ Therry= My pleasure dear ….you certainly can do it! Btw you have such incredible talent girl, I was so amazed!

  12. therry Says:

    aww … *blush* got a praise from a posh laydee :D

  13. Daus Says:

    many years i had been living around well known “gay area” in Nollendorfplatz, where the Gay & Lesbs Partys in weekend have always been held, public market on the street, with all different games, seeing a bunch of pairs holding each other hands was still a fun, louder live music untill Sunday 22 hrs, was a good experience. but though, its still not my thing. Women are still wonderfull creatures and it will always be….

  14. Aha, kalo ga salah (pastinya bener-hehehe) Panorama Bar kan yang ada di Berlin bagian timur ya? Yang deket ama tembok Berlin itu kan? Hmmm…ngebandingin tempat goyang ama Irish Bar mungkin kaya ngebandingin Real Madrid ama San Antonio Spurs, sama-sama banyak bintang, sama-sama superior, sama-sama kaya, tapi…dua jenis yang berbeda…so, ga bisa dibandingin. Walopun kadang saya pergi juga ke tempat goyang, tapi Irish Bar tetep lebih seru, karena jadi tempat ngobrol apa aja (dan mungkin ga mengumbar nafsu seksual)…dan saya suka salah satu slogan di Kings Bar Leiden (salah satu Irish Bar di Leiden): “Take me drunk, I`m home” (tanpa bertujuan untuk mabuk tentunya, walopun kalo mabuk pun ga salah). So, yang penting adalah punya sikap. For those who have attitude(s), I salute you :) .

  15. finallywoken Says:

    I don’t mind gay bar, but I don’t like and I don’t do drugs. I specially don’t like people offering drugs to me then when rejected looking at me like I’m a weirdo. Dude…

  16. Arif Wirawan Says:

    Hahahaha…!!!!

    pengalaman yang lucu….dan kayaknya mengesalkan**

    tapi, memang sepertinya ada dunia2 seperti itu..diluar dunia manusia pada umumnya…

    mudah2an kita tidak termasuk yang sedemikian..amin..

  17. Ian Says:

    Gileee…segitunya ye Jerman, emang parah. DI sini jg banyak yg sejenis, tp gw blm pernah sih masuk ke tempat macem itu. Jangan sampe dah!

    Stay away lah Nest!

  18. Ian Says:

    Eh yang ga kalah bikin gw ga kalah merindingnya tuh waktu di clud di DC. Waktu itu cm diajak temen yg ultah, gw sendiri ga suka clubbing, mendingan BBQan hehe…

    Btw, waktu itu hampir New Year. Since I don’t smoke nor drink, gw cm ngobrol aja sm temen. Nah tiba2 ada 2 bencong masuk, gw kaget krn kebetulan gw ada di deket pintu masuk ruangan itu (the 4th floor). Trus gw bilang ke temen, “Eh ada bencong tuh, ky bencong Indo kok…?”. Temen gw nge-iya-in aja. Trus ga lama kemudian tuh 2 bencong mo cabut dari ruangan dan melewati gw lagi di deket pintu masuk/keluar sambil bilang, “Selamat malam, jangan nakal!” dengan kerlingan matanya. Hahaha…gw kaget spontan aja bilang, “Happy New Year!”


Leave a Reply