Inilah cerita seorang wanita tua yang sangat kesepian. Ketika sepasang remaja mengunjungi gubuknya tepat di sebelah rumah tua.
Rumah tua di tepi bukit menjadi saksi bisu segelintir perjalanan hidup wanita cantik berparas setengah bule itu beberapa masa yang lalu. Di rumah mungil berlantai dua dan berdinding kayu tua, Alicia akan menghabiskan dua tahun masa hidupnya. Hingga takdir berkata lain. Tiada yang tahu apa yang akan menimpa hidup kita kelak. Begitulah hidup kenyataannya. Sejak kedatangan si cantik Alicia, aku tidak lagi berani mendatangkan tamu ke rumah tua itu. Aku tidak sanggup. Sungguh aku terluka dan kecewa akan kepergiannya. “Semua salahku”, tutur Clara.
Matahari bersinar indah dan pemandangan menawan menghiasi setiap sudut pandang mata. Aku tiba, inikah kota yang akan kuteduhi dalam dua tahun mendatang? “Sungguh sirami aku dengan keindahan dan keelokkanmu, berikan aku kesejukkan sentuhanmu”, doa Alicia.
Alicia langsung menyadari ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari jauh dialah Clara wanita setengah baya pemilik rumah tua di tepi bukit. Mereka memang sempat bercakap-cakap via telephone seminggu lalu ketika Alicia ingin menyewa rumah tua itu selama 2 tahun masa baktinya. Clara pun yang sepi akan tamu langsung menyikapi ini dengan jawaban positif dan antusias, “Aku senang sekali kamu mau menempati rumah tuaku, Alicia. Percayalah akan kupersiapkan semua sebelum kedatanganmu. Rumah mungil itu akan menjadi milikmu dan aku tinggal tepat di sebelah rumahmu. Dulu itu adalah rumah kakakku yang telah meninggal karena kecelakaan di laut. Aku akan menjemputmu di pelabuhan Alicia“. Itulah singkat percakapan terakhir mereka sebelum pertemuan ini terjadi.
Mereka pun bersalaman dengan hangat dan langsung menuju kediaman mereka dengan mobil Volvo S70 keluaran terbaru milik Clara. Sepanjang 15 menit perjalanan, pandangan Alicia tak berkedip akan keindahan landscape dimana langit biru, rumput hijau, kuda-kuda dan kijang berkeliaran bebas dengan leluasanya. Sungguh suasana yang baru dan segar buatku. Udara segar bebas polusi sangat kusadari kehadirannya disetiap tarikan nafasku. Kota yang sangat terisolasi.
Tak lama kemudian mobil pun parkir di bagian belakang rumah tua itu. Langkah kakiku terasa lambat dan berat sambil menatap keseluruhan area sekitarnya. Tiupan angin melambaikan rumput-rumput rindang dan dedaunan diatas pohon, seakan-akan mereka menyapa kehadiranku dengan riang dan gembira. Selamat datang, mungkin itulah kata mereka.
Pintu rumah tua mengeluarkan suara haus dari bautnya. Aku percaya sekali rumah ini tidak pernah lagi dihuni sekitar 3-5 tahunan. Udara dingin menyikut seluruh tubuh ketika kami menaiki lantai dua dimana ruang tamu dan kamar tidurku berada. Rumah sebesar 50m² dihiasi tentunya dengan perabotan tua seperti porcelan, keramik dari tanah liat, patung-patung kuno, dan terlihat pula ratusan photo tua terpajang disetiap sisi dindingnya. Clara pun memberi tahu peraturan dan sekelumit hal-hal penting lainnya yang layak untuk kuketahui.
Setelah semua kupahami dengan benar segera dia meninggalkanku dalam kebisuan dan kedinginan. Alicia merebahkan tubuh sintalnya diatas dipan yang sangat dingin. Dipan ini pun serasa menyimpan sejuta kenangan. Rumah tua ini sangat penuh dengan kenangan, pikir Alicia. Seandainya kau bisa bicara rumah tua. Temani dan berbicaralah denganku. Ceritakanlah sejarahmu.
Terlelaplah Alicia dalam mimpi setelah perjalanan panjang selama 14 jam yang melelahkan.
Alicia tersentak bangun ketika matahari singgah diparas muka eloknya. Dari jendela kamarnya Alicia terkesima akan sebuah pemandangan indah laksana lukisan alami yang sangat phenomenal. Burung-burung bertebangan di angkasa, air laut biru dengan desiran halus ombaknya, serta pantai dengan pasir putihnya adalah pemandangan yang akan menemani keseharian Alicia. Jalan mungil setapak dengan bunga mawar berwarna warni menghiasi dikedua sisi jalan. Benar-benar sebuah lukisan yang elok. Senyum manis mengulum di bibir tipis merahnya. Aku tidak salah pilih, inilah yang kuinginkan. Jauh dari kesombongan dan keserakahan manusia kota. Jauh dari konsumtifitas dan kebodohan perilaku-perilaku yang tidak bertanggungjawab. Pelarian ini tidak akan merugikanku. Kenyataannya aku kembali ke alam indah ini.
Setelah bersiap Alicia langsung melangkah menuju ke tempat kerjanya. Alicia bekerja sebagai seorang perawat di rumah sakit jiwa. Inilah cita-citanya dari kecil, mengurusi orang-orang yang menderita keterbelakangan mental. Dikarenakan Alicia memiliki adik kecil yang sakit jiwa dan nekat membunuh dirinya diusia yang begitu belia. Alicia pun sangat terpukul dengan keadaan ini, dan selalu menyalahkan peristiwa pelik itu akan kelalaiannya dalam menjaga adiknya. Memang di kala itu Alicia dan Jane begitu nama adik kecilnya, hanya berdua dirumah ketika ibu mereka pergi mencari sesuap nasi. Ayah mereka telah lama pergi meninggalkan mereka. Ayahnya lebih memilih untuk hidup bersama dengan seorang pelacur muda yang selalu memuaskan nafsu birahi seorang pemabuk jalanan. Alicia tidak pernah mengenal sang Ayah dengan baik. Jujur dia sangat menyimpan dendam dan benci mendalam terhadap ayahnya. “Laki-laki terkutuk”, teriak hatinya pilu.
Sayangnya sang Bunda pun telah lama pergi ke alam baka. Kanker payudara telah merenggut satu-satunya keluarga dan orang tercinta Alicia. Kenyataan hidup yang pahit telah bertubi-tubi meluluhlantakkan perasaan Alicia. Tak heran kedewasaan pribadi Alicia sangat terpancar di raut wajahnya. Pelajaran hidup Alicia sungguh banyak untuk wanita seusianya. Kini adalah Alicia sebatang kara.
Alicia merasa dengan bekerja sebagai seorang perawat di rumah sakit jiwa setidaknya akan menghilangkan rasa bersalahnya terhadap kematian Jane. Berharap bisa membantu dan mengawasi mereka yang sakit mental agar tiada lagi yang mengalami peristiwa yang sama denganku dulu. Sungguh niat yang mulia. Alicia telah mendedikasikan hidupnya menjadi seorang perawat. Disinilah Alicia berlabuh akhirnya. Tawaran menjadi supervisor di sebuah rumah sakit baru di kota tua ini diterimanya pun dengan hati senang.
Rumah sakit itu memang terlihat sangat modren, higienis dan canggih. Perkenalan dengan beberapa staf berlalu dengan cepat. Alicia menempati ruangan kerja berukuran 35m². Meski kecil tapi sangat tertata apik sesuai seleranya. Tak terasa beberapa bulan masa kerjanya berlalu dengan cepat. Alicia mulai merasa betah dengan staf dan pasiennya. Alicia mencintai dan menikmati pekerjaannya. Tiada hari tanpa senyum dilalui Alicia dalam kesehariannya. Semua orang menyayangi Alicia sebagai seorang bos cantik yang baik hati, bijaksana, dan telaten. Alicia memiliki banyak penggemar rahasia baik dikalangan karyawannya maupun di semua pasien-pasiennya.
Lalu dimulailah kisah sedih itu. Jumat siang Alicia memutuskan pulang lebih awal dari tempat kerjanya dan ingin sekali mendaki salah satu bukit tertinggi di kota tua itu. “Bukit cinta“ begitulah orang menamainya. Aku butuh udara segar dan ingin menyendiri, katanya. Berbekal makanan, minuman, mp3 player, serta novel dari Helen Fielding, Alicia memulai perjalanannya. Meski salah seorang stafnya menawarkan diri untuk menemani, namun Alicia tetap bersikeras ingin mendaki bukit tersebut sendiri dan menikmati kesendiriannya ditengah alam bebas.
Menurut informasi dibutuhkan sekitar empat jam untuk mendaki bukit cinta tersebut. Alicia merasa sungguh fit saat itu. Sambil bernyanyi mengikuti alunan musik dari mp3 playernya, Alicia terus mendaki bukit tersebut. Sejam perjalanan telah dilewatinya. Cuaca mulai tidak menentu. Silih berganti awan terang disusuli awan mendung. Setelah sejam berlalu kontan awan gelap datang dan angin kencang berhembus menghempaskan badan sintalnya. Alicia sungguh penuh ketakutan. Tak lama hujan deras menerjam. Tak ada tempat untuk berteduh, baik perjalanan mundur atau mendaki sangatlah licin. Alicia terus melangkahkan kakinya mengikuti jalan setapak. Mencoba untuk menguatkan hatinya dan menjauhkan ketakutan yang sudah melanda hatinya. Dia mulai menggigil kedinginan. Tak terpikirkan olehnya cuaca cantik hari ini akan dihiasi hujan kelam seperti ini. Aku tidak sedia payung. Aku salah, sesalnya. Akhirnya Alicia sadar dia tidak akan mampu meneruskan perjalanan ini. Bibirnya membiru dan tenaganya pun habis berperang dengan angin kencang serta hujan yang sangat lebat.
Sebuah lubang menanti langkah kaki lambatnya. Sungguh kelam dan gelap cuaca busuk saat itu. Alicia pun tergelincir lemah dan tak sadarkan diri. Kepalanya terhantuk sebuah batu karang di pinggiran bukit. Beruntungnya Alicia tidak terjatuh ke jurang yang haus manusia itu. Hujan deras nan pekat dihiasi angin malam yang gahar menjilati tubuh malang Alicia. Dia sungguh tak berdaya. Tiada yang tahu berapa kemungkinan Alicia akan bertahan hidup mengingat darah segar terus mengalir dari sisi belakang kepalanya.
Semalaman suntuk Alicia tergeletak dijalanan setapak yang becek penuh lumpur. Sang fajar mulai menyingsing. Ayam jantan berkokok dari segala penjuru.
Seperti biasanya setiap sabtu pagi Clara dan Alicia selalu sarapan bersama. Mereka berbagi cerita dan berkelakar layaknya sebuah keluarga kecil. Seperti seorang ibu dan anak. Clara langsung jatuh cinta akan keindahan pribadi Alicia. Begitu pun sebaliknya, Alicia yang haus akan kasih sayang ibu menyambut aluran cinta kasih Clara. Mereka sungguh sangat dekat satu dengan yang lain bersamaan dengan berjalannya waktu. Cinta suci tumbuh perlahan-lahan.
Clara mendatangi rumah tua tepi bukit milik Alicia. Tumben sekali rumah itu terkunci. Tak ada suara yang menyahut dari dalam. Lalu Clara mencoba menghubungi telefon genggam gadis bule itu. Tak bisa dihubungi. Clara mencoba menghubungi kantornya dan mendapatkan kabar bahwa Alicia mendaki ”bukit cinta” sejak kemaren pagi. Dan hari ini Clara tidak datang ke rumah sakit.
Clara langsung berlari kerumah dan bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke bukit cinta. 10 menit kemudian Clara sudah berada dalam perjalanan. Sebelumnya Clara sempat menghubungi para tetangga akan keberangkatannya menuju bukit cinta untuk menjemput Alicia. Clara sungguh sangat cemas akan nasib gadis perantau itu. Tuhan selamatkan gadis malangku dari segala cobaan naas. Dia gadis baik dan aku butuh Alicia dalam hidupku. Dia adalah anakku yang telah hilang. KAU telah mengirimkannya kembali kepadaku. Jangan lagi kau ambil dia pergi dari hidupku.
Setelah tiga jam berjalan kaki menempuh medan yang keras, akhirnya Clara menemukan tubuh lemah Alicia. Mukanya biru dan kulit tubuhnya sungguh pun putih pucat. Tak ada denyut nadi lagi terasa. Clara menangis histeris akan keadaan yang ditemukannya. Clara berusaha melakukan percobaan nafas buatan. Tidak ada reaksi meski sudah puluhan kali berupaya. Clara membalikkan tubuh Alicia, luka menganga dikepalanya tersibak. Aliran darah segar masih terus mengguyur. Alicia tidak lagi bernyawa. Cuaca buruk itu telah merenggut nyawa seorang wanita cantik dan baik hati. Pujaan banyak orang.
Wanita malang itu wafat. Kembali kepangkuan sang Pencipta. Sungguh ajal datang tiada yang mengetahui. Nasibnya sungguh sangat naas. Belum lama berselang dari kedatangannya tapi takdir berkata lain. Alicia Harrison kembali ditelan bumi diusia 25 tahun.
Itulah cerita Clara setelah 10 tahun berlalu dari tragedi yang mengubah sisa hidupnya.
–InesT–
Nice story Honesty. Tulisanmu lebih berwarna.
Keep it up
Sammy